Apartemen 203 (part 3)

Bab 1. Seorang “Teman” (part 3)

===========================================

(Kembali ke part 2)

ADEGAN 4

Pelaku :

  • Sean
  • Tn. Alfred P., pemilik toko swalayan, tempat menjual berbagai barang kebutuhan yang lengkap.
  • Frank Cellini, seorang penjahat kriminal.
  • Polisi #1, polisi distrik
  • Polisi #2, polisi distrik
  • Polisi #3, polisi distrik. Polisi #3 tidak masuk ke dalam adegan. Hanya suaranya yang berperan.

Setting :

Toko swalayan yang menjual barang-barang yang cukup lengkap tapi tidak terlalu besar, karenanya Tn. Alfred tidak memerlukan pegawai untuk mengelolanya. Banyak rak-rak display yang berjejer rapi. Keadaan toko lengang, tidak ada pembeli. Jam di dinding menunjukkan pukul 9 malam.

Adegan :


Sean masuk ke dalam toko, tangannya menggenggam buku. Ia baru saja pulang dari tempat fotokopi, kertasnya terselip di dalam bukunya. Sean menoleh kiri kanan, tapi ia tidak menemukan pemilik toko. Sean terus berjalan masuk hingga mendekati bagian belakang toko.

Di balik sebuah rak yang besar tiba-tiba dia menemukan seorang pria bertubuh besar dan berwajah seram yang berjongkok sambil tangannya memeriksa sebuah mayat yang tergeletak. Menyadari keberadaan Sean, pria itu langsung berdiri tegak. Mayat di bawah kaki pria itu, adalah mayat pemilik toko. Ada banyak darah mengalir di dekat kepalanya. Di dekat tangan kanannya tergeletak sebuah telepon genggam. Kelihatannya ia dibunuh ketika sedang menelepon.

Pria itu bergegas memburu Sean sambil menjulurkan tangan kirinya untuk mencengkeram. Tangan kanannya yang menghunus sebilah pisau terangkat tinggi-tinggi. Sean hanya sempat memperhatikan, di tangan kiri pria itu yang menjulur ke arahnya, ada sebuah tato bertuliskan “Y2nk”. Pada detik berikutnya, secara refleks Sean memutuskan untuk mengambil tindakan membela diri. Sebelum pria itu sampai kepada Sean, Sean terlebih dulu mencampakkan buku yang dipegangnya ke wajah pria itu sambil kakinya melangkah mundur. Lalu dengan cepat Sean membalikkan badannya dan lari sekuat tenaganya melintasi lorong di antara rak-rak. Pria itu mengejarnya terus.

Saat itulah suara sirine mobil polisi terdengar mendekat dari arah jalan. Pria itu berhenti mengejar Sean, lalu berbalik ke belakang dan menghilang di balik pintu belakang. Dua orang polisi menggebrak masuk dari pintu depan. Keduanya memegang senjata.
Mereka melihat Sean, lalu menodongkan senjata ke arahnya.

Polisi # 1 :”Angkat tangan!”

Sean mengangkat sebelah tangannya. Tangan satunya lagi menunjuk ke arah pintu belakang.

Sean : “Penjahatnya lari lewat pintu belakang, Pak!”

Polisi tadi mengibaskan senjatanya dan berteriak lebih keras lagi.

Polisi #1 : “Angkat tanganmu!”

Sean mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi dan menutup mulutnya.

Polisi kedua bergegas memeriksa keadaan lalu berjongkok di dekat mayat Tn. Alfred.
Tiba-tiba dari arah belakang toko di luar terdengar suara teriakan.

Polisi #3 : “Berhenti! Polisi!”

Terdengar suara letusan tembakan sekali, kemudian sunyi senyap.

ADEGAN 5

Pelaku :

  • Sean
  • Polisi #1
  • Polisi #2

Setting :

Ruang interogasi di kantor polisi. Ada sebuah meja panjang dan beberapa kursi di tengah ruangan. Juga ada sebuah lemari kabinet di salah satu sudut ruangan itu.

Adegan :

Sean duduk di salah satu kursi. Salah seorang polisi berdiri di sampingnya sambil melipat tangan. Seorang lagi duduk di atas meja di depan Sean. Adegan ini bersifat Visual Only. Artinya, audience melihat adegan tapi tidak mendengar satu dialog pun.

Adegan memperlihatkan Sean sedang berbicara dengan kedua polisi tersebut sambil sesekali kedua tangannya memperagakan apa yang sedang diceritakannya. Setelah mendengar cerita cukup banyak, akhirnya kedua polisi tersebut mengantar Sean ke pintu keluar.

ADEGAN 6

Pelaku :

  • Sean
  • Nia

Setting :

Ruang duduk apartemen Sean. Jam di dinding menunjukkan waktu pukul 12 malam.

Adegan :

Sean masuk dari luar lalu menutup dan mengunci pintu. Wajahnya kelihatan letih dan rambutnya sedikit kusut. Ia tidak membawa buku yang tadi dibawanya pergi.

Sean : “Aku pulang.”

Suara Nia : “Selamat datang, Sean.”

Sean berjalan menuju sofa di ruang duduk lalu menjatuhkan dirinya dan berbaring.

Sean : “Aduh, sial sekali.”

Suara Nia : “Kenapa kamu?”

Sean : “Buku itu tertinggal di toko. Nggak bisa kuambil.”

Suara Nia : “Kenapa?”

Sean : “Polisi sudah menutup tempat itu. Nggak ada orang yang boleh masuk.”

Suara Nia : “Kenapa ditutup polisi?”

Sean menutup mata, lalu membukanya dan memandang langit-langit.

Sean : “Kamu tau, nggak? Tadi aku dikejar-kejar seorang pembunuh.”

Suara Nia : “Ha?”

Sean : “Tadi, waktu aku sampai di toko, aku melihat seorang pria baru saja membunuh pemilik toko. Lalu dia mengejarku. Untung polisi segera datang. Pemilik tokonya sempat memanggil polisi sebelum dibunuh.”

Suara Nia : “Lalu pembunuhnya ditangkap?”

Sean : “Nggak. Dia berhasil kabur. Wah, seru sekali tadi waktu dikejarnya.”

Suara Nia : “Kamu ingat wajahnya?”

Sean : “Tadi di kantor polisi aku sudah memberikan gambarannya kepada tukang sketsa. Sekarang dia sudah jadi buronan.”

Suara Nia : “Orang itu mau merampok ya?”

Sean : “Nggak tau. Mungkin saja.”

Suara Nia : “Orang itu mungkin masih ingat padamu. Mungkin nanti dia akan mencari kamu.”
Sean : “Sepertinya nggak. Sekarang kan, dia dicari-cari polisi. Aduh, kenapa kutinggalkan tadi bukunya.”

Suara Nia : “Kamu kok malah menyesalkan bukunya sih. Seharusnya kamu khawatir pada penjahat itu. Selagi belum ditangkap dia masih mungkin mengejarmu.”

Sean : “Ah, nggak apa-apa kok. Dia itu tadi kan, mengejarku karena memergoki dia. Dia nggak kenal sama aku. Justru aku akan mendapat masalah besok gara-gara buku itu.”

Suara Nia : “Buku itu nggak bisa diambil lagi?”

Sean : “Paling nggak, untuk beberapa hari ini bukunya nggak bisa diambil.”

Suara Nia : “Oh, begitu.”

Sean memejamkan matanya.

Suara Nia : “Sean, penjahat itu tadi sempat melukaimu?”

Sean diam saja.

Suara Nia : “Sean? Kamu tidur?”

Sean : “Iya. Aku mau tidur.”

Suara Nia : “Ooo. Ya, sudah. Tidurlah.”

(Bersambung ke part 4)

Advertisements

7 thoughts on “Apartemen 203 (part 3)

  1. salam
    makin seru *klik part 4*

    –> aduh, senengnya…
    cerita kucing membuat mba nenyok terhanyut…
    untung ngga ampe ke laut hanyutnya…

  2. Wew,,thriller…
    idem ama kang fairuzdarin 😛

    –> dasar testbug, ngebut terus…kekeke
    fairuzdarin itu mba-mba, loh, bug.
    namanya Reni. kalo siang makan nasi, kalo malam minum susu.
    eh, kok jadi lagu, yah? auk, ah…

  3. pus, kamu menulis skrip ini pasti untuk difilmkan ya?
    mana filmnya?
    jangan bilang di warung lontong lagi loh!
    *nyiapin clurit*

    –> i… ii… iiyaa, uni…
    ng.. ngga bilang di… di warung lon… lontong, deh…
    tapi di wa… warung pecel….
    ** ambil langkah seribuuuuu **

  4. Upz,,mbak-mbak yah?
    Lom sempat mampir di kandangnya kang mbak faruzdarin sih..
    Maaf yah mbak.. 😦
    *ouh,nggak mama koq..udah dimaafin dari kemaren.. 😉
    Wuih..makasih yah mbak.. 🙂

    –> wakakaka, testbug ngayallll.. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s