Apartemen 203 (part 2)

Bab 1. Seorang “Teman” (part 2)

===========================================

(Kembali ke part 1)

ADEGAN 2

Pelaku :

  • Sean.
  • Nia.

Setting :

Kamar tidur Sean. Kamar tidur Sean isinya sederhana saja. Hanya ada tempat tidur, meja belajar kecil beserta kursi, lemari pakaian, dan meja kecil di dekat tempat tidur. Di atas meja kecil ada sebuah pesawat telepon model kuno. Jendela kamar Sean tertutup rapat. Lampu kamar Sean menyala cukup terang. Lampu baca di atas meja kecil juga menyala.

Adegan :

Sean sedang duduk di atas tempat tidur, bersandar ke dinding di belakang punggungnya. Sean memakai celana jeans tapi tidak memakai baju. Rambutnya masih basah karena baru selesai mandi. Ia sedang membaca buku yang dibawanya dari perpustakaan tadi. Sesekali Nia menyela dan bertanya pada Sean yang sedang membaca.

Suara Nia : “Kamu sudah baca sampai mana?”

Sean : “Nia, kamu kenal pelaut bernama Rik, nggak?”

Suara Nia : “Nggak. Kenapa?”

Sean : “Masa nggak kenal? Kamu kan, sudah lama sekali tinggal di kota ini. Tentu pernah mendengar namanya. Di buku ini dikatakan patung kuno ini dikembalikan ke Museum Dessin lima puluh tahun yang lalu oleh seorang pelaut bernama Rik, setelah sebelumnya pernah hilang bertahun-tahun dicuri orang. Itu nama museum yang ada di kota ini, berarti patung itu sekarang ada di kota ini.”

Suara Nia : “Aku kan tinggalnya cuma di dalam kamar ini saja. Aku nggak bisa tau keadaan di luar sana kecuali kalau penghuni kamar ini pernah membicarakannya di sini. Aku nggak begitu ingat, tapi kalau kuhitung-hitung, lima puluh tahun yang lalu, yang tinggal di sini cuma seorang tua pemabuk. Entah siapa namanya, tak jelas. Dia itu sering keluar kalau malam. Baru pulang setelah pagi tiba, selalu dalam keadaan mabuk, dan langsung tidur hingga sore tiba.”

Sean membalik halaman bukunya.

Sean : “Rik menghilang beberapa hari setelah mengembalikan patung itu. Sampai sekarang belum ditemukan, walaupun ada beberapa orang yang mengaku pernah beberapa kali melihatnya dalam waktu dua puluh tiga puluh tahun berikutnya.”

Suara Nia : “Biarin aja. Aku nggak kenal yang namanya Rik.”

Sean tertawa.

Sean : “Bukan begitu. Kalau aku mengetahui sedikit mengenai hal-hal yang berhubungan dengan patung ini, kan aku bisa punya tambahan bahan obrolan dengan si Ann.”

Suara Nia : “Ooooh, begitu, ya.”

Sean : “Iya. Nah itu kamu sudah mengerti.”

Terdengar suara Nia tertawa.

Sean bangkit dari tempat tidur dan berdiri.

Suara Nia : “Kamu mau kemana?”

Sean : “Aku mau ke tempat fotokopi sebentar di luar. Mau ke toko swalayan juga, mau beli minuman.”

Suara Nia : “Tempat fotokopi itu tempat apa?”

Sean : “Aku mau memperbanyak gambar ini. Kamu bisa lihat, nggak?”

Sean membuka lebar-lebar sebuah halaman di buku itu, lalu menunjukkannya ke dinding. Sean merasa sedikit aneh melakukan hal seperti ini.

Suara Nia : “Nggak perlu kamu tunjukkan sampai begitu. Caraku melihat nggak sama dengan caramu melihat. Aku melihat dengan cara merasakan getaran dari pikiranmu.”

Lalu Nia tertawa. Sean merasa sedikit malu.

Sean : “Iya, deh. Aku pergi dulu.”

Sean meraih sebuah kaos berwarna hitam dari lemari pakaiannya, lalu memakainya sambil berjalan ke pintu.

ADEGAN 3

Pelaku :

  • Sean.
  • Jenny, wanita muda penghuni kamar di sebelah kamar Sean. Jenny adalah seorang karyawati di sebuah perusahaan perjalanan wisata.

Setting :

Lorong di luar kamar Sean. Kamar Sean terletak di lantai lima. Di ujung lorong ada sebuah lift. Letak lift tidak begitu jauh dari kamar Sean, hanya berjarak tiga pintu. Dari kamar Jenny, jaraknya empat pintu. Jenny akan melewati kamar Sean bila berjalan dari lift menuju kamarnya sendiri.

Adegan :

Sean baru saja keluar dari kamar apartemennya lalu menutup dan mengunci pintu. Jenny baru saja keluar dari lift dan berjalan ke arah Sean menuju kamarnya sendiri. Jenny memakai pakaian seragam kerja berwarna gelap yang kelihatan seksi dan menyandang tas kecil di bahunya. Ia baru saja pulang dari tempat kerjanya.
Sean berjalan mendekati Jenny lalu manyapanya dengan ramah.

Sean : “Hai, Jenny. Baru pulang?”

Jenny hanya tersenyum sambil matanya melirik Sean. Ia terus saja berjalan tanpa menjawab hingga langkahnya melewati Sean.
Sean menghentikan langkahnya dan memandang Jenny yang terus melangkah dan memunggunginya. Ia merasa Jenny kelihatan sangat menarik kalau sedang berjalan dan dilihat dari belakang. Rambut lurusnya yang panjang sedikit melambai terbawa angin.
Sesampainya di depan pintu apartemennya, Jenny mengeluarkan kunci dari tas kecilnya tetapi tidak langsung membukanya. Wajahnya menoleh ke arah Sean terlebih dahulu.
Buru-buru Sean mengalihkan pandangannya dan melanjutkan langkahnya menuju lift.

(Bersambung ke part 3)

Advertisements

6 thoughts on “Apartemen 203 (part 2)

  1. pus, apartemen 203 itu kan bukan apartemen sean ya?
    soalnya aneh kalau dia tinggal di lantai 5, tapi nomornya 203.
    *misuh-misuh*
    sabar dong, marhsmallow. baca dulu sampe kelar baru komen!

    –> yeee, kan udah diitung, kalo satu lantai ada 50 kamar, maka lantai ke-5 itu dimulai dari 201, 202, 203… jadi kamarnya itu pintu ke-3 dari lift…
    ** misuh-misuh juga ama uni **
    👿

  2. gimana sih kucing?
    kamar 203 kan artinya kamar nomor tiga di lantai dua.
    tapi gpp, deh.
    untung aku gak tinggal di sana, jadi gak perlu bingung.

    –> yeee, penomorannya ngga bisa disamakan dengan tempat lain dong, uni…
    apalagi dibandingin ama hotel..
    ini kan apartemen tua, uni…
    pemiliknya juga katanya agak-agak misterius dan nyentrik gitu, loh.
    katanya si Nia, sih..
    loh? kok kucing bisa ngomong ama Nia, yah?
    waaaaaa……. syeremmm
    😯

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s