Apartemen 203 (part 1)

Bab 1. Seorang “Teman” (part 1)

==========================================

ADEGAN 1

Pelaku :

  • Sean, seorang pria muda yang baru saja tinggal di sebuah apartemen sejak dua hari yang lalu. Sean juga baru saja diterima bekerja menjadi penjaga di sebuah perpustakaan tua.
  • Nia, suara wanita muda “penunggu” apartemen yang ditempati Sean. Nia tidak berwujud, hanya suaranya saja yang terdengar. Ia menjadi penunggu di kamar apartemen itu sejak lebih seratus tahun yang lalu.

Setting :

Ruang duduk apartemen Sean. Apartemen tempat tinggal Sean adalah sebuah apartemen tua yang memiliki dapur kecil, ruang duduk, kamar tidur, dan kamar mandi. Dapur berbatasan langsung dengan ruang duduk, hanya dipisahkan oleh sebuah meja panjang. Di ruang duduk terdapat satu set meja dan kursi sofa, satu meja belajar dan kursinya, satu rak buku di sudut ruangan, pesawat televisi dan mejanya, dan satu peti besar. Lampu di ruang duduk dan dapur menyala remang agak kemerahan. Kedua jendela di ruang duduk tertutup rapat dan terkunci. Jam di dinding menunjukkan pukul 8 malam.

Adegan :


Sean masuk dari luar kemudian menutup dan mengunci pintu apartemennya. Ia pulang sedikit terlambat dari hari kemarin. Ia memakai jaket hitam lusuh, kemeja kotak-kotak, dan celana jeans. Di tangannya ia membawa sebuah bungkusan.

Sean : “Aku pulang.”

Suara Nia : “Selamat datang, Sean”

Sean membuka jaketnya lalu berjalan menuju ruang duduk. Sean meletakkan jaketnya di atas meja, dan juga barang yang dibawanya. Sambil duduk di kursi, Sean membuka sepatunya.

Sean : “Bagaimana kabarmu, Nia?”

Sean bertanya sambil menggulung kaus kakinya. Sean tidak perlu menoleh untuk menunggu jawaban pertanyaannya.

Suara Nia : “Tentu saja nggakada yang berubah.”

Tidak ada suara. Nia diam sejenak.

Suara Nia : “Kamu pikir aku bisa melakukan kegiatan macam-macam?”

Nia tertawa.

Sean : “Aku kan belum lama mengenalmu. Baru dua hari tinggal di sini.”

Sean memandang pada dinding kosong di depannya. Ia terpaksa begitu karena ia tidak bisa melihat Nia.

Sean : “Siapa tahu kamu bisa melakukan hal-hal ajaib yang nggak bisa dilakukan orang biasa.”

Suara Nia : “Ah, nggak.”

Nia diam lagi sejenak

Suara Nia : “Yang bisa kulakukan cuma bicara saja. Itu pun hanya dapat kulakukan denganmu. Orang lain nggak bisa mendengar suaraku.”

Sean : “Bagaimana dengan penghuni kamar sebelum aku?”

Suara Nia : “Nggak ada. Nggak ada yang bisa mendengar suaraku. Aku sudah sejak lama sekali tinggal di sini. Sudah banyak sekali orang pernah tinggal di sini sebelum kamu. Tak ada seorang pun yang bisa mendengar suaraku.
Tapi dulu ada seorang wanita tua bernama Ny. Jocelyn yang tinggal di kamar ini. Dia tinggal di sini hampir dua puluh tahun. Dia nggak bisa mendengar suaraku, tapi pada tahun-tahun terakhir hidupnya, ia diberi seekor kucing oleh temannya untuk menjadi temannya tinggal di sini. Nah, kucing itu bisa mendengar suaraku. Lucu, deh kucingnya. Tapi karena dia hanya seekor kucing, dia nggak bisa mengerti apa-apa. Dia hanya bisa bereaksi apabila kupanggil. Dia selalu bingung karena nggak bisa melihatku.”

Sean : “Kamu bisa bicara dengan Jenny?”

Suara Nia : “Jenny siapa?”

Sean : “Penghuni apartemen sebelah. Kamu nggak tau?”

Suara Nia : “Nggak. Aku nggak pernah bisa keluar dari kamar ini.”

Sean mengubah posisi duduknya.

Sean : “Oh, jadi kamu nggak bisa keluar dari sini?”

Suara Nia : “Ya, begitulah.”

Sean : “Pasti membosankan sekali. Kamu nggak merasa bosan?”

Suara Nia : “Nggak juga. Dalam kondisiku seperti ini, aku tidak terikat pada waktu. Bagiku sepuluh menit atau seratus tahun itu sama saja.”

Sean : “Bagaimana sih hidupmu dulu? Kamu hidup tahun berapa?”

Suara Nia : “Aku nggak ingat lagi tahunnya.”

Sean : “Bagaimana kondisi orang-orang pada waktu itu? Bagaimana keluargamu?”

Suara Nia : “Itu juga aku nggak ingat lagi.”

Sean : “Kamu nggak ingat lagi? Coba diingat-ingat, mungkin ada sesuatu yang menjadi ciri khas masamu dan bisa dijadikan petunjuk.”

Suara Nia : “Sudahlah. Aku nggak mau mengingat itu.”

Sean : “Baiklah.”

Suara Nia : “Itu kamu bawa apa? Bungkusan itu.”

Sean mengalihkan pandangannya pada bungkusan yang dibawanya masuk tadi. Lalu ia mengeluarkan sebuah buku dari bungkusan itu.

Sean : “Tadi di perpustakaan seorang gadis mencari buku ini. Kelihatannya penting sekali baginya. Aku perhatikan dia begitu serius membacanya. Aku jadi ingin tahu isinya. Makanya aku bawa pulang. Besok aku kembalikan lagi. Mungkin besok dia datang lagi.”

Suara Nia : “Memangnya isinya tentang apa?”

Sean : “Isinya tentang sejarah sebuah patung kuno.”

Suara Nia : “Kamu kenal gadis itu?”

Sean : “Nggak. Tapi aku tahu namanya Ann. Aku lihat dari katalog daftar anggota perpustakaan.”

Suara Nia : “Lalu kenapa kamu sampai ingin tahu buku yang dibacanya?”

Sean : “Memang nggak boleh? Sekedar ingin tahu kan, boleh-boleh saja. Lagi pula dia kelihatan begitu serius waktu membaca buku ini tadi. Karena itu aku jadi penasaran.”

Suara Nia : “Apa yang bisa begitu penting dari buku itu buat dia?”

Sean : “Aku baru baca sebagian saja tadi di perpustakaan. Masih belum begitu jelas. Nanti saja deh, dilanjutkan. Aku mau mandi dulu.”

Sean bangkit dan berjalan ke kamar mandi sambil membuka kemejanya.

Suara Nia : “Apakah gadis bernama Ann itu orangnya cantik?”

Sean menyahut dari dalam kamar mandi

Sean : “Ya, wajahnya manis sekali. Kenapa kamu tanya begitu?”

Suara Nia : “Pantas saja. Kalau tidak cantik, kamu tidak akan begitu tertarik dengan urusan pribadinya.”

Sean tertawa di dalam kamar mandi.

Sean : “Biarin!”

Nia juga tertawa.

(Bersambung ke part 2)

Advertisements

11 thoughts on “Apartemen 203 (part 1)

  1. Si pus muncul langsung membawa seabrek cerita.. Ceritanya bagus pula.. 😀

    –> haaa, ada dear Reni di tempat kucing….
    ternyata ada yang nungguin tempat kucing selama kucing pergi….
    waa, senengnyaaa….

  2. Nice story….love it 🙂

    –> thanks, ya, mba… 😀
    dvd-nya udah beredar loh…
    silakan cari di tukang jual lontong terdekat, ya, mba…
    😀

  3. gimana sich pus, dah ke tukang lontong..ehhh malah ngomel2 dagangnya…”ngapain cari dvd disini, kalo buku ada…” lho???? ketularan ngaco juga nich….

    –> nah loh, mba Iin ngga tau, tukang lontongnya yang sebenarnya ngaco…
    jadi kalo mau nyari dvd, yang ditanya itu : ada penghapus pinsil?
    ntar dikasih dvd…
    gitu loh…

  4. pus,
    hanya sean yang mengenal dan dapat mendengarkan suara nia.
    ini bukannya halusinasi pendengaran?
    itu kan gejala schizophrenic?
    *ingat-ingat kuliah jiwa*
    (ribut sendiri nebak-nebak, padahal salah)

    –> wakakaka… dasar uni dokter… langsung dianalisis penjelasan medisnya…..
    * btw uni, email kucing yang isinya diary kucing pemalu udah dibuka, yaa…? waduh, isinya itu privasi banget uni… jangan dikasi ke orang lain ya, uni… *
    ** kasi upeti, persembahan, sesajen, buat uni **

  5. wah, ada email ya?
    abis gmail jarang dipake sih.
    oke, aku cek.
    makasih, kucing.
    rahasia tergantung sajen loh.

    –> uni…. takut, nih…
    isi email itu jangan ampe tau orang lain, yaa..
    baik yang di sini, maupun yang di sana.
    mereka bertiga (E, dan temen uni V dan W) juga ngga boleh tau.
    nomor hp mereka diapus aja, yak, biar uni ngga berhubungan lagi ama mereka…
    :maksa: 👿 :maksa: 👿
    **ikut-ikutan maksa cara Reni**
    😀

  6. *endus..endus..*
    Hmmm,,ada yang nggak beres neh.. 😕
    Skandal ini..! SKANDAL!!
    *bukan skandal jepit lho..:P

    –> iyah, ini bukan skandal jepit, tapi skandal Swallow…
    **suap testbug dengan pecel, mi tiaw, martabak, siomay, supaya bungkam**

  7. merespon email rahasia kucing yang penuh skandal:
    pus, saya sudah terima cek senilai IDR 1T dari ibu arthalyta
    50% akan kita bagi rata berdua,
    sisanya untuk jaksa E, V, dan W
    nomor kontak para jaksa itu belum dapat saya hapus
    menunggu transaksinya lancar dulu.

    *lirik-lirik testbug yang curiga*

  8. Huh?skandal marShmallow? 😕 *makin ngaco..*

    *deketin uni..*
    Eh,uni,,coba deh liat ke atas.. Ada UFO mogok tuh..
    *rampas ceknya 👿 *
    *kabur……….*

    BTW,nggak ada rencana buat bikin buku gitu pus?
    Cerita kamu bagus-bagus gitu lho..
    Paling enggak e-book lah 😛

  9. dipidi nyang bajakannye udah ada di toko besi kagak, neh?

    hwehe…

    (^_^)v

    ah, jadi pengen bisa bikin adegan-adegan kek gini. ga cuman kek adegan “gadis vs pemuda” mulu.

    –> ada kok, di toko besi…
    ntar pas nanya tokenya, bilangin “ada laptop toshiba?”, nanti dia kasih dipidinya.
    wah, ceritanya menarik.
    trus, pemudanya itu siapa dong?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s