Pantun

Sudah lewat siang hari, suasana di Aransia terasa kering karena listrik masih belum hidup juga. Tidak ada tester yang datang hari ini. Sepertinya mereka tau kondisi Aransia yang sedang mati lampu. Heru, Dedi dan Fauziah duduk-duduk di ruang depan bersama Nia sambil ngobrol.

“Heru, gue punya pantun. Coba lo tebak pantunnya.”, kata Fauziah.

“Gimana pantunnya”, tanya Heru.

“Begini,”, kata Fauziah,

“Dia berada dalam sesuatu yang melingkar
Semua orang tau kepalanya ada tiga
Di belakang kepalanya ada yang tidak sadar
Juga empat belas pengikut selalu ada

Nah, tebak apa artinya?”

“Wah, sulit banget.”, kata Heru. “Kepalanya ada tiga? Hewan Cerberus, bukan? Itu loh, monster dalam legenda Yunani. Kan, kepalanya ada tiga. Gue pernah liat dalam game ‘Heroes of Might And Magic’.”

“Salah. Bukan itu jawabannya.”, kata Fauziah.

“Jadi apa?”

“Lo tebak, dong.”

“Susah banget. Kasih petunjuk lain, dong.”

“Kan udah dikasih empat baris. Masak sih masih kurang banyak. Petunjuknya udah cukup jelas, deh.”

Nia menimpuk, “Makanya lo tuh Her, harus sering-sering baca buku. Jangan maen game melulu. Harus sering-sering ibadah juga, supaya lo bisa kembali ke jalan yang benar.”. Nia cekikikan melihat wajah Heru yang melongo.

“Apa hubungannya ama ibadah? Emang gue sesat apa?”, kata Heru. “Apa sih jawabannya? Lo bisa, nggak Ded?”, tanyanya kepada Dedi.

“Gue juga nggak tau.”, kata Dedi.

“Gue nyerah, deh.”, kata Heru.

“Nyerah?”, tanya Fauziah.

“Iya, nyerah.”

“Jawabnya, Pi”, kata Fauziah.

“Pi? Pi apa?”, tanya Heru

“Pi, ya Pi. Masak lo nggak tau Pi? Lo dulu sekolah nggak?”

“Maksudnya Pi yang untuk menghitung lingkaran?”

“Iya. Pi itu. Berapa coba?”

“Tiga koma empat belas.”, jawab Heru.

“Nah, kan. Cocok dengan pantun gue yang tadi, kan? Kepalanya tiga, di belakangnya ada koma, alias tak sadarkan diri. Lalu diikuti sama angka empat belas.”

“Susah banget. Mana ada orang yang bisa nebak kalo begitu.”, kata Heru.

“Pokoknya pantun. Reseh amat sih lu.”, kata Fauziah.

“Pantunnya nggak seru.”, kata Heru. “Yang singkat-singkat aja, biar seru.”

“Contohnya gimana?”

“Misalnya ‘Tukang bakso jarang lewat’.”, kata Heru.

“Iya, bener tuh.”, kata Fauziah. “Cuman tukang mie pansit yang rajin lewat di sini.”

“Bukan itu.”, kata Heru. “Gue lagi mantun. Simak dong. ‘Tukang bakso jarang lewat’.”

“Iya gue tau! Makanya kalo mau beli bakso, lo pergi ke ujung jalan aja. Di sana selalu ada.”, kata Fauziah lagi.

“Gue bukan lagi ngomongin bakso!”, kata Heru lagi. “Ini pantun! ‘Tukang bakso jarang lewat’.”

“Ya deh, ya deh.”, tanya Fauziah. “Apa artinya?”

“Muka lo sarang jerawat.”, kata Heru pada Fauziah.

“Asin lo!”, teriak Fauziah sambil berusaha mencubit Heru.

Nia dan Dedi tertawa-tawa.

“Wayang golek dikasih kue.”, kata Fauziah pada Heru.

“Apa artinya?”, tanya Heru.

“Lo jelek, risih gue.”, jawab Fauziah sambil menjauhkan diri.

“Merem melek sambil nyisir.”, kata Heru tak mau kalah.

“Artinya?”, tanya Fauziah.

“Biar jelek banyak yang naksir.”, jawab Heru.

“Udah, udah.”, kata Nia. “Bencong pesolek mukanya item.”, kata Nia lagi.

“Apa artinya?”, tanya Heru dan Fauziah.

“Sesama orang jelek dilarang berantem.”

“Iya, tuh.”, kata Dedi. “Satu kancil tiga buaya.”

“Apa artinya?”, tanya Fauziah.

“Waktu kecil nggak bahagia ya.”

“Enak aja.”, kata Fauziah. “Beli nyicil dikasih gratis.”

“Apa artinya?”, tanya Dedi.

“Waktu kecil gue ini artis.”, jawab Fauziah bangga.

“Huu.”, kata Heru. “Cucu raja banyak yang jaga.”

“Artinya?”, tanya Fauziah.

“Begitu aja bangga.”

“Biarin. Ngiri lo, kan?”, kata Fauziah. “Nyari kutu di bawah lampu.”

“Apa artinya?”, tanya Heru.

“Sirik itu tanda tak mampu.”

“Iya, deh.”, kata Heru mengalah. “Nasi lemang sayur lodeh.”

“Artinya?”, tanya Fauziah.

“Emang, lu cakep deh.”

“Idih.”, kata Fauziah. “Beli pasir dua kilo.”

“Artinya?”, tanya Heru.

“Naksir, lo?”

“Apa? Naksir?”, seru Heru. “Nenek-nenek jatuh di kamar mandi.”

“Artinya?”, tanya Fauziah.

“Harus ditolongin dong. Kan kasian neneknya, udah tua, jatuh lagi.”, jawab Heru.

Fauziah berusaha mencubit Heru kuat-kuat. Heru pun menjauh sambil tertawa.

Advertisements

5 thoughts on “Pantun

  1. pergi ke pasar beLi terigu, tapi gk jadi karna kemahaLan..
    seteLah baca postinganmu, terpikir untuk stop kebodohan…

    –> hehehe… apapun postingannya, RedZz tetep ngga mau ngalah… 😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s