Peribahasa

Saat istirahat siang, suasana di dapur menjadi ramai. Para karyawan duduk mengelilingi meja makan. Sebagian duduk di bangku di pojok-pojok ruangan karena tidak kebagian tempat di meja.

“Siapa bisa membuat peribahasa pakai nama artis?”, tanya Juliarti sambil makan.

“Contohnya gimana?”, tanya Dedi. Nasi di mulutnya berhamburan keluar.

“Contohnya,”, jawab Juliarti, “Air susu dibalas air Latjuba. Artinya, ada orang nukar susu sama air dengan Sofia Latjuba.”

“Gue bisa.”, kata Aliwati. “Sedia payung sebelum Ujang Suryana.”

“Artinya apa?”, tanya Juliarti.

“Artinya, kita musti sediakan payung dulu kalo Ujang Suryana sedang berkunjung ke tempat kitar.”, jawab Aliwati.

“Kalo gini boleh, nggak?”, kata Kurniawan. “BeRuhut-Ruhut Sitompul, berenang-renang ke tepian.”

“Boleh. Artinya apa?”, tanya Juliarti.

“Artinya Ruhut Sitompul suka berenang di pinggir-pinggir.”, jawab Kurniawan.

“Pucuk dicinta Mulan Kwok tiba.”, timpuk Hendra.

“Artinya?”, tanya Juliarti.

“Artinya, ngapel sama Mulan Kwok.”

Taufik ikut-ikutan juga.

“Gue punya nih. Menepuk air di dulang terpercik muka Sundari Sukoco. Artinya, Sundari Sukoco lagi main air di bak.”, katanya.

Fauziah menyumbang satu peribahasa.

“Gue juga punya yang mirip. Air beriak tanda tak Delon.”, katanya. “Artinya, Delon tidak suka main air.”

Nia juga menyumbang peribahasa.

“Buruk di muka cermin diBella Saphira.”

“Apa artinya?”, tanya Juliarti.

“Ada orang jelek yang suka minjem cermin ama Bella Saphira.”, jawab Nia.

Dedi juga ikut menyumbang,.

“Lain padang lain belalang, lain lubuk lain Ike Nurjannah. Artinya, yang suka main sungai di Padang dan nyari belalang itu bukan Ike Nurjannah.”

Heru tidak mau ketinggalan.

“Nasi sudah menjadi Bu Bariah.”, sumbangnya.

“Bu Bariah siapa?” tanya Aliwati.

“Itu loh, yang jualan rujak di film si Unyil.”, jawab Heru.

“Jadi arti peribahasanya apa?”, tanya Juliarti.

“Sekarang dia udah jualan nasi.”, jawab Heru.

Saputra juga ikut-ikutan.

“Berdiri sama tinggi, duduk sama Marshanda.”, katanya.

“Artinya?”, tanya Juliarti.

“Artinya, gue sama Marshanda berdua naik bus.”, jawab Saputra bersemangat.

Rizal mengambil kesempatan menyumbang peribahasanya.

“Banyak jalan menuju Rhoma Irama.”, katanya, “Artinya, rumah Rhoma Irama ada di simpang empat.”

“Gue ada banyak.”, kata Anto.

“Anjing menggonggong kafilah berLaluna. Artinya, sewaktu anjing menggonggong para kafilah berjoget-joget menonton Laluna menyanyi. Terus, Gajah mati meninggalkan Andien. Artinya, dulunya Andien memelihara gajah, tapi sekarang udah mati.

Terus, Ada udang di balik Ratu. Artinya Ratu buka usaha bisnis tambak udang secara diam-diam.”

Hendra menyumbang lagi.

“Kalah jadi abu, menang jadi Anang Hermansyah. Artinya Anang Hermansyah menang main tanah sama temannya.”

Aliwati juga menambah.

“Sambil menyelam minum Ari Lasso”, katanya. “Artinya, Ari Lasso buka usaha bikin minuman khusus untuk para penyelam.”

“Ibarat kucing dibawakan Lidia Kandouw”, Taufik menyumbang peribahasanya lagi. Ia lebih mahir kalo soal artis tahun 80-an. “Artinya, ada orang ngundang Lidia Kandouw untuk menengok kucing di rumahnya.”

Heru tak mau kalah.

“Ada gula ada si Mahmud.”, katanya.

“Siapa si Mahmud?”, tanya Aliwati.

“Tetangga gue.”

“Nggak sah. Dia bukan artis.”, kata Juliarti.

“Tapi peribahasanya cocok dengan pekerjaannya.”, kata Heru membela diri. “Di warungnya dia jualan gula.”

Advertisements

8 thoughts on “Peribahasa

  1. Pertamax 😛

    Salam kenal yah…
    Cerita lo asik2 😀
    gw demen banget
    padahal baru baca hari ne…
    langsung masuk bookmark 😉
    wew,,update tiap hari yah??keren…

    btw,game developer yah??

    –> makasii, bug… ** manggilnya apaan sih? manggil bug lucu, deh.**

    game developer? dulu sih, sempet bikin beberapa game sederhana.
    sekarang ngga lagi.
    ngga ada yang nampung…
    😀

  2. wakakakakakakaka, berguling2 nih …. lanjutin lagi pus…., lumayan bacaan dikala nungguin antre di BTN

    –> makasih… 😀

  3. temen-temen Anda sungguh kreatif, Cing! 🙂
    hehe.. namanya kucing, bukan, sih? 😀

    –> namanya sih, kucing. tapi biasanya sehari-hari dipanggil kucing.
    ** beda ngga, ya? auk ah… **

  4. bikin buku humor aja napa?
    biar terkenal

    –> napa ya, mbak? napa?
    **berbalik, lalu menatap kosong ke luar jendela **
    kenapa, yah? kenapa?
    ** lagi kumat jiwa teaternya **
    😀

  5. As usual, kucing bikin gw senyum2 kecil ampe ngakak… 😆 bru bangun langsung cek WP….lutju2……

    –> ah, ngga kok, mbak… sebenernya kucing lebih banyak seriusnya, karena kerjanya sebagai programmer merangkap jaga malam.

  6. pus, bole gk nyumbang pribahasa?

    neh gw kasi atu buat u..
    “Ringan sama dijinjing, berat sama si kucing”
    artinya.. kLo ringan Qt tanggung bareng2..
    kaLo berat, u tanggung ndirian aja pus.. gw gak ikutan..

    sah, ya.. pus2 kan artis..
    *artis di kampung kucing tetangga~*

    –> hehehe, pribahasanya maksa…. kucing bukan artis, yeee
    jadi, ngga sah!

  7. hahahaha…kocak, ini kehidupan sehari2 ya?? kalian kreatif sekalii

    –> ini ngga kehidupan sehari-hari… ini kehidupan sebulan-bulan…
    **ngga ngerti sendiri ngomong apa… hehe**

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s