Foto

Kurniawan masuk ke ruangan Fauziah sambil membawa sebuah kamera digital. Fauziah menoleh ke arahnya.
“Ji,”, kata Kurniawan, “aku minta foto kamu, yach?”
“Oh, boleh, boleh.”, kata Fauziah senang.

“Foto dimana?”, kata Fauziah lagi, “Di luar atau di dalam? Atau di dekat kolam aja. Di pinggir jalan.”
“Ah, nggak usah. Di sini aja.”, kata Kurniawan.
“Oke, deh.”, kata Fauziah, lalu ia bangkit sambil merapikan pakaiannya.
Kurniawan berkata buru-buru, “Nggak usah pakai gaya-gayaan segala, Ji. Aku cuman mau foto close up.”
“Pakai gaya, dong.”, kata Fauziah. “Dimana-mana foto yang paling berkesan itu adalah foto yang menampilkan gaya orangnya.”
“Iya, deh.”

Fauziah berjalan ke depan mejanya lalu mulai bergaya. Tubuhnya menghadap ke samping, sebuah tangannya di pinggang dan sebuah lagi bertumpu pada permukaan meja. Kepalanya menoleh sedikit dan matanya melirik ke arah Kurniawan.
“Ayo foto.”, katanya.
“Anu,”, kata Kurniawan. “Bisa tidak kamu menampilkan wajah kamu penuh ke depan.”
“Lo itu belum apa-apa udah minta ubah gaya. Yang ini foto dulu, lalu kita ubah gayanya ke yang lain.”, kata Fauziah.
“Iya deh.”
“Lo kalo mengambil foto, tangan lo jangan begitu. Sini nih.”
Fauziah mendekati Kurniawan dan membetulkan posisi tangannya.
“Kalo tangan lo begini hasil fotonya bisa lebih baik.”
“Iya, deh.”, kata Kurniawan.
Fauziah bergaya lagi. Kurniawan mengambil foto satu kali.

Kemudian Fauziah mengubah gayanya. Kurniawan hendak mengambil fotonya lagi.
“Kalo gaya gue begini lo jangan ngambil fotonya dari sudut situ.”, kata Fauziah.
Lalu Fauziah menyuruh Kurniawan berjongkok di pojok ruangan dan mengatur posisi tangannya.
“Nah, kalo lo ngambil foto dari sudut begini, kesan fotonya nanti bagus.”

Begitulah seterusnya, sampai sembilan kali mereka mengambil foto. Fauziah melakukan berbagai macam gaya dan juga tak henti-hentinya membetulkan gaya Kurniawan dalam mengambil foto.
“Anu, kayaknya udah cukup deh.”, kata Kurniawan. “Makasih, ya.”
“Oke, deh. Ntar nanti sore gue mau liat hasilnya, ya.”, kata Fauziah.
“Iya.”

Kurniawan kembali ke ruangannya. Dengan kabel ia menghubungkan kameranya dengan komputernya lalu mulai mentransfer file gambar hasil foto. Dari sembilan file gambar cuma satu file yang diinginkannya, yaitu foto close up wajah Fauziah, yang dari semula memang merupakan keinginannya, dan akhirnya berhasil didapatkannya.

Dengan software grafis, ia mengedit foto tersebut dan hanya mengambil bagian pipi, dimana jerawat-jerawat yang memenuhi pipi Fauziah dapat terlihat dengan jelas. Setelah selesai mengedit, filenya ia simpan lalu ia beralih ke software 3D-nya.

Tadi sebelum datang ke ruangan Fauziah, Kurniawan menemukan hambatan dalam pekerjaannya membuat lokasi level dalam game dengan software 3D-nya. Ia sudah membuat terrain, atau bentuk permukaan daratan, yang sesuai dengan yang dituntut dalam script. Setelah pekerjaan membentuk terrain selesai, selanjutnya ia perlu memasang gambar tekstur. Ia membutuhkan gambar yang cocok untuk efek bump mapping pada permukaan terrain, agar didapat kesan permukan yang kasar, bentol-bentol dan penuh lubang-lubang kecil. Mirip dengan permukaan bulan. Kini ia telah mendapatkannya dari foto jerawat wajah Fauziah.

Advertisements

3 thoughts on “Foto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s