Hari-hari Penuh Kegiatan (Bagian 5)

[Istirahat Siang]

Saat istirahat siang, para karyawan berkumpul di dapur. Mereka semua berlangganan catering dengan Bi Saujah. Perusahaan-perusahaan kecil lainnya yang menjadi tetangga kantor mereka juga menjadi langganan Bi Saujah.

Hendra duduk di sebelah Fauziah dan berusaha merayunya agar mau membagi kerupuknya. Kurniawan makan dengan tenang, sementara Rizal dan Taufik membahas keadaan komputer server yang bermasalah.

Nia yang sedang diet, memberikan separuh nasinya kepada Anto. Anto menyambutnya dengan gembira.

“Lo kan, orang Padang. Lo nggak bikin Rumah Makan Padang?”, tanya Nia sambil makan.

“Kenapa orang Padang asumsinya harus bikin rumah makan?”, tanya Anto balik. Lalu ia melanjutkan, “Jangan salah, orang Padang nggak cuman pinter bikin masakan. Orang Padang juga pinter bikin film. Lu tau nggak, banyak film yang dibuat di Hollywood yang mencontek film yang dibuat di Padang, tapi judulnya diubah karena orang barat nggak bisa bahasa Padang.”

“Ah masa?”

“Iya.”

“Contohnya?”

“Contohnya film dari Padang berjudul ‘Mak Tiri’. Karena orang barat nggak bisa ngucapin judulnya, lalu mereka ubah judulnya menjadi ‘Matrix’.”

“Plesetan lo.”, komentar Nia.

“Iya, bener.”, kata Anto. “Banyak lagi contohnya.

Film ‘Alien Vs. Predator’, berasal dari film ‘Malin Vs. Para Datuk Kotor’,

film ‘Star Wars’, berasal dari film ‘Sebentar Waras’,

film ‘The Passion’, berasal dari film ‘Duh Pusiang’,

film ‘Spiderman’, berasal dari film ‘Sapi Delman’,

film ‘Lord Of The Ring’, berasal dari film ‘Laruik Di Ateh Piring’,

film ‘Harry Potter And The Prisoner Of Azkaban’, berasal dari film ‘Hari Pinter Dan Para Senior Asy-Syakban’,

Film ‘Troy’, berasal dari film ‘Taruih’,

bahkan di Korea orang lagi bikin film yang bintangnya Sie Boo Young, Sie Oe Jang, dan Sie Oe Pik, judulnya ‘Room Of Garden’. Aslinya judulnya ‘Rumah Gadang’.”

“Banyak banget film orang Padang.”, kata Nia.

“Iya.”, ujar Anto. “Bintang filmnya juga. Contohnya bintang film laga, Jacky Chan. Dulu nama aslinya Jacky Chaniago. Asalnya dari Padang.”

Sementara itu, Juliarti, didorong oleh naluri, mulai mengajak semuanya bermain tebak-tebakan.

“Coba tebak. Sikat apa yang suka muncul dalam cerita anak-anak?”

“Sikat gigi.”, jawab Saputra, walaupun dia tidak bisa memikirkan cerita apa yang ada sikat giginya.

“Salah.”, ujar Juliarti.

“Jadi sikat apa?”, tanya Saputra.

“Sikatcil.”, jawab Juliarti. “Itu loh, yang suka mencuri timun.”

“Itu Si Kancil.”, komentar Saputra.

Hendra menimpuk, “Si Kancil itu kan, kalo kita tinggal sendirian jauh dari kota, ya?”

“Itu terpencil.”, kata Juliarti.

Tebak-tebakan mereka mulai berubah menjadi plesetan.

“Loh, terpencil itu bukannya cetakan yang sering dipake untuk mencetak?”, tanya Saputra.

“Itu stensil.”, kata Juliarti.

“Stensil itu bukan alat tulis untuk menulis?”, tanya Hendra.

“Itu pinsil.”, kata Juliarti.

Heru ikut bergabung.

“Pinsil itu, yang dipakai orang untuk mengaduk semen, bukan?”, tanyanya.

Juliarti, Saputra, dan Hendra berfikir keras, alat apa yang dipakai untuk mengaduk semen dan namanya mirip dengan pinsil. Akhirnya Juliarti bertanya,

“Emangnya apa yang dipakai orang ngaduk semen?”

“Sekop.”, jawab Heru pendek.

“Huuuu!”, seru Juliarti sambil melempar bungkus kerupuk. Sekop sama sekali tidak mirip bunyinya dengan pinsil.

Aliwati ikut menyumbangkan teka-tekinya.

“Kaset apa yang bisa berubah bentuk?”, tanyanya.

“Kaset video.”, jawab Saputra sekenanya, sementara Juliarti berusaha memikirkan jawaban yang pas.

“Salah.”, ujar Aliwati.

“Jadi kaset apaan?”, tanya Juliarti.

“Kasetria Baja Hitam.”, jawab Aliwati. “Kan, kalo mau jadi robot, dia berubah dulu.”, sambungnya.

Juliarti kembali memberi tebak-tebakan.

“Duit apa yang bikin orang kesel?”, tanyanya.

“Mana ada duit bikin orang kesel.”, sahut Hendra.

“Ada. Makanya gue nanya.”, Juliarti membela diri.

“Duit haram.”, Saputra menebak.

“Salah.”

“Duit hutang.”

“Salah.”

“Jadi duit apa dong?”

Juliarti menjawab, “Duitanya berkali-kali tapi tetap diem aja, nah itu kan bikin orang kesel namanya.”

Heru tidak mau kalah.

“Kecil. Jorok. Bercahaya. Apaan, hayo!”, serunya.

Tidak ada temannya yang mampu memikirkan jawaban yang pas. Yang mendekati pun tidak.

“Nyerah deh gue.”, kata Juliarti.

“Gue juga. Apa jawabnya?”, tanya Saputra.

“Upil nempel di lampu.”, jawab Heru.

“Huuu!”, seru Aliwati.

“Jorok lu! Orang lagi makan, lo ngomongin upil.”, kata Nia. Ia bangkit dengan rantangnya, dan akhirnya semuanya ikut bangkit dan bubar.

Advertisements

One thought on “Hari-hari Penuh Kegiatan (Bagian 5)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s