Hari-hari Penuh Kegiatan (Bagian 3)

[Ruang Rekam]

Ruang Rekam adalah ruangan kecil tempat Heru menciptakan musik-musik, suara efek, dan merekam dialog untuk game-game yang mereka produksi. Dari ruangan ini sering terdengar suara-suara aneh karena Heru lebih sering bereksperimen daripada mengerjakan tugasnya. Dari suara jeritan kuntilanak, raungan anjing kejepit pintu, sampai teriakan wanita minta tolong sehabis kecopetan, semuanya bisa terdengar tiba-tiba dari dalam ruangannya. Tak ada suara yang tak dikoleksi oleh Heru. Selain itu, dengan bermodalkan sebuah keyboard synthesizer, piranti aranjer, dan paket software di komputernya ia bisa membuat banyak jenis musik.

Sekarang ia akan membuat musik yang bertema sedih dan melankolis, untuk menjadi musik latar dalam salah satu level dalam game nanti. Ia telah memeriksa daftar koleksi melodi yang dimilikinya tetapi tidak ada yang sesuai dengan yang diharapkannya. Ia pun memutuskan untuk menciptakan melodinya dari awal. Untuk membuat musik yang melankolis, ia memerlukan suasana hati yang tenang dan menghanyutkan. Ia mulai menutup mata dan mencoba merangkai-rangkai nada. Jarinya meraba-raba di tuts keyboard.

Tiba-tiba pintu ruangannya dibuka dengan suara gaduh dan Fauziah masuk sambil teriak-teriak.

“Heru! Heru! Sini deh, ayo lo ikutan! Cepet!”, teriaknya.

Heru kehilangan konsentrasinya dan menyahut, “Ada apa?”.

“Itu di depan ada tukang balon lewat. Ayo lo ikutan beli. Ada balon yang bunyinya lucu banget.”

Heru mengernyitkan alisnya. “Nggak ah.”, katanya.

“Nggak mau ikutan beli?”, tanya Fauziah.

“Lagi ada kerjaan, nih.”

“Tinggalin dulu bentar. Ayo.”, paksa Fauziah.

“Nggak bisa.”

“Serius amat sih lo.”

“Biarin.”

“Lo nggak mau dengar suara balonnya? Ntar bisa lo rekam buat koleksi lo.”

“Nggak mau ah.”

“Huu, payah deh lu.”

Fauziah pergi sambil menutup pintu dengan suara gaduh.

Setelah Fauziah pergi dan hatinya tenang kembali, Heru pun mulai mencoba kembali merangkai nada untuk menciptakan lagu yang syahdu. Ia menutup matanya, menghanyutkan perasaannya, dan mencoba melupakan sekelilingnya. Ia tidak mendengar apapun, sang waktu seolah berhenti.

Tapi tak sampai lima menit tiba-tiba pintu ruangannya kembali terbanting terbuka menimbulkan suara gedubrak yang keras, diiringi Fauziah dan Nia yang masuk berbarengan, masing-masing menggenggam balon pada kedua tangannya.

“Tet Teet Toeeet Tieet Tot Tot Tet Teet Toeeeet!”

Berisik sekali suara kegaduhan yang mereka timbulkan. Belum lagi jeritan mereka karena kegirangan. Mereka mengajak Heru merekam suara balon-balon itu.

“Berisik, woooi!”, kata Heru kesal. “Ayo keluar! Hus! Hus!”, usirnya.

“Huuuuu!”, cibir kedua cewek tersebut. Mereka pun pergi membawa kegaduhan mereka sambil menutup pintu.

Setelah suasana tenang, Heru mulai mencoba kembali mengarang musiknya. Ia mencoba merasakan suasana yang tenang dan mencoba lagi berkonsentrasi menyusun nada melankolis.

Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka lagi. Kali ini Dedi yang masuk.

“Her, lu nampak obeng gue?”, tanyanya.

“Nggak.”, jawab Heru.

“Di sini nggak ada?”, kata Dedi lagi, sambil masuk. Tanpa menunggu jawaban Heru, dia berkeliling memeriksa barang-barang di ruangan itu. Suara barang-barang dan laci-laci dibuka dan ditutup terdengar bersahut-sahutan silih berganti. Riuh sekali.

Tak lama kemudian ia pergi keluar dengan tangan hampa. Heru pun kembali dalam ketenangan.

Heru sudah mulai kesulitan berkonsentrasi. Pikirannya berputar-putar pada nada yang itu-itu saja, tidak dapat dikembangkannya lebih lanjut. Ia mencoba berkonsentrasi lebih keras.

Tetapi belum lama Heru mencoba kembali dalam konsentrasinya, pintu ruangannya terbuka kembali. Bi Saujah, atau yang kadang-kadang dipanggil BiShoujo oleh Anto, melongokkan wajahnya ke dalam.

“Heru, mau mie? Bibi lagi meringkus mie, nih.”, kata Bi Saujah.

“Maksud Bibi, merebus mie?”, tanya Heru.

Bi Saujah punya kebiasaan sering keliru mengucapkan suatu kata padahal maksudnya adalah kata yang lain. Untunglah semua karyawan Aransia tidak merasa kesulitan memahami perkataan Bi Saujah.

“Oh iya, itu maksud Bibi.”, kata Bi Saujah.

“Nggak usah, Bi. Saya lagi ada kerjaan nih”, kata Heru.

“Bener, nggak mau mie? Mienya nyenyak loh.”, kata Bi Saujah lagi.

“Maksud Bibi, mienya enak?”, ralat Heru.

“Oh iya, itu maksud Bibi.”, kata Bi Saujah.

“Nggak deh, Bi. Bibi aja yang makan.”, ujar Heru.

“Nggak papa, kok. Bibi masih punya sepatu lagi.”, Bi Saujah berkata lagi.

“Maksud Bibi, punya satu lagi?”, ralat Heru.

“Eh iya, itu maksud Bibi.”

“Nggak usah deh, Bi.”

Bi Saujah berkata, “Mumpung Bibi lagi buat mie, nih. Biar dibuatin sekolahan.”

“Maksud Bibi, dibuatin sekalian?”, ralat Heru.

“Oh iya, itu maksud Bibi.”

“Nggak, Bi. Nggak usah.”

“Betelur nih?”, tanya Bi Saujah lagi.

“Maksud Bibi, betul nih?”

“Eh iya, itu maksud Bibi.”

“Betul, Bi.”

“Ya udah.”, Bi Saujah menghilang di balik pintu.

Begitulah seterusnya, tak henti-hentinya Heru terus didatangi berbagai orang dengan berbagai urusan silih berganti. Dedi datang lagi dua kali, mula-mulai mencari selotip, lalu mencari kabel. Hendra datang membawa brosur dan menawarkan barang-barang kepada Heru. Nia datang minta dicopykan lagu MP3. Neneng yang datang membawakan minuman, tak sengaja menumpahkannya ke atas meja dan keyboard. Dan seterusnya.

Akhirnya pada hari itu Heru tidak dapat bekerja sama sekali.

Advertisements

3 thoughts on “Hari-hari Penuh Kegiatan (Bagian 3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s