Hari-hari Penuh Kegiatan (Bagian 2)

[Ruang Programmer]

Ruang Programmer hanya dihuni dua orang, Taufik dan Saputra. Di ruang ini tidak sering terdengar percakapan. Hanya diskusi-diskusi biasa, tetapi dengan bahasa yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.

Pagi ini Neneng masuk mengantarkan minuman untuk keduanya. Neneng sebenarnya bertugas mengurus kebersihan kantor. Ia masih belum lama bekerja, dan baru datang dari desa. Bibinyalah yang mengajaknya bekerja di Aransia. Bi Saujah, nama bibinya, bekerja mengurus dapur dan makanan catering di Aransia. Kadang-kadang Neneng menggantikan Bi Saujah mengurus minuman para karyawan.

Saputra sedang berlutut di dekat sebuah komputer sambil menekan-nekan tombol.

“Pelayannya nggak mau sepatu.”, katanya kepada Taufik.

Neneng yang kebetulan mendengar seolah merasa dirinya disinggung. Ia menjadi bingung.

“Sepatu apa, Bang?”, tanyanya.

“Ada deh.”, jawab Saputra sekenanya sambil terus mengutak-atik komputer server di hadapannya. Neneng tidak mengerti bahwa yang dimaksud Saputra dengan kalimatnya tadi adalah, “Servernya tidak mau boot”, alias “Komputer servernya tidak mau hidup”.

“Penyedia tenaganya kali.”, Taufik menyahut dari belakang tanpa menoleh. Ia sedang asyik dengan codingnya, sibuk menulis program.

Neneng mengira yang dimaksudkan Taufik adalah bibinya, Bi Saujah. Karena Bi Saujahlah yang memasukkan Neneng bekerja di kantor itu. Padahal yang dimaksudkan Taufik adalah power supply dari komputer yang sedang diutak-atik oleh Saputra.

“Kenapa dengan bibi Neneng?”, tanya Neneng.

“Emang ada apa dengan bibi Neneng?”, tanya Taufik balik.

“Tadi Abang bilang….”.

“Penyedia tenaganya nggak mama.”, Saputra menimpali. Power supply dari komputer server itu masih berada dalam kondisi baik karena bukan di situ masalahnya. Saputra sering mengganti ungkapan “nggak papa” menjadi “nggak mama”.

Neneng menyambung, “Iya, bibi Neneng.”.

“Oh iya.”, kata Taufik tiba-tiba. “Ingatannya nggak ada. Coba cari di rak piring.”, katanya kepada Saputra. Ingatan yang dimaksud Taufik adalah keping memori. Memang tadi pagi Taufik melepas keping memori dari komputer server untuk memeriksa sesuatu, tetapi dia lupa mengembalikannya lagi. Sekarang keping memori itu ada di rak CD, atau yang sering mereka bilang, rak piring.

Neneng makin bingung mendengar perkataan Taufik. Ia merasa dibilang tidak ada ingatan, terus adanya di rak piring. Neneng pun merasa lebih baik ia pergi. Ia pun keluar dan pergi menuju dapur. Rak piring hanya ada di dapur.

Saputra mengambil keping memori tersebut dari rak CD, lalu memasangnya.

“Oke, sekarang sudah bisa jalan.”, katanya.

Taufik pun melanjutkan codingnya kembali.

Advertisements

One thought on “Hari-hari Penuh Kegiatan (Bagian 2)

  1. ini para programmer asli indonesia banget! begitu cintanya ia akan bahasa indonesia. jgn2 mereka berdua ini pioner pembuatan bhsa programming dr bhsa indonesia. hwehe…

    –> sebenernya pekerjaan programming itu membawa efek samping pada kewarasan otak… huehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s