Hari-hari Penuh Kegiatan (Bagian 1)

[Ruang Desain]

Ruang Desain dihuni oleh empat karyawan yaitu Juliarti, Aliwati, Anto, dan Kurniawan. Ruang ini tidak pernah sepi dari percakapan, dan dari teriakan Anto, yang biasanya menyanyi dengan keras mengikuti musik di headphonenya, karena hanya dengan berbuat demikian ia bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya.

Juliarti bermain tebak-tebakan dengan Aliwati.

Juliarti : “Wat, lo kenal Koeman, nggak?”

Aliwati : “Koeman yang pemain sepakbola itu, ya? Kalo nggak salah dari Belanda, ya?”

Juliarti : “Gue nggak tau dari negara mana, tapi lo tau kan, di tipi sering muncul kabar si Koeman dibunuh? lo tau siapa pembunuhnya?”

Aliwati : “Hah? Emang bener mati dibunuh?”

Juliarti : “Iya bener. Makanya lo tebak, siapa pembunuhnya.”

Aliwati : “Mana gue taaau.”

Juliarti : “Masa lo nggak liat tipi sih. Kan lagunya sering muncul.

Lifebuoy dengan Puralin, membunuh Koeman

Lifebuoy dengan Puralin, cara sehat untuk mandi

Nah, dari situ kan ketauan pembunuhnya ada dua. Yang satu namanya Lifebuoy, yang satu lagi namanya Puralin.”

Aliwati : “Iya bener. Tau deh gue sekarang. Lu tau lutung, nggak?”

Juliarti : “Lutung Kasarung?”

Aliwati : “Bukan itu. Lu tebak, lutung apa yang suka negor?”

Juliarti : “Lutung ramah.”

Aliwati : “Salah.”

Juliarti : “Lutung baek.”

Aliwati : “Salah.”

Juliarti : “Jadi apa jawabnya?”

Aliwati : “Lutunggu aja di halte, pasti lu ditegor para kenek bus, ‘Mo kemana, deeek?’, katanya. Tul, kan?”

Juliarti : “Betul juga. Sekarang gue. Semen, semen apa yang diperingati orang?”

Aliwati : “Semen Gresik.”

Juliarti : “Emang Semen Gresik diperingati orang? Salah.”

Aliwati : “Jadi semen apaan?”

Juliarti : “Semen…jak Indonesia merdeka, tanggalnya tiap tahun diperingati orang. Nah, itu jawabnya.”

Aliwati : “Keriput, berasap, ngos-ngosan. Apa coba?”

Juliarti : “Ga tau.”

Aliwati : “Nenek-nenek ngejar angkot.”

Sementara itu, Anto asyik dengan tugasnya membuat gambar karakter dengan tabletnya (alat gambar digital). Kedua telinganya ditutupi headphone yang mengeluarkan suara musik yang keras sekali. Sekarang dia sedang mendengarkan lagu Kris Dayanti, “Mencintaimu”. Dia menyanyikannya dengan keras, tapi liriknya dia ubah.

“Mencium tai muuu…

Seumur hidupkuuu….”

Kurniawan telah terbiasa dengan suara ribut-ribut yang dibuat Anto, karena itu dia tak kehilangan konsentrasinya dalam membuat bangunan 3D yang akan menjadi salah satu lokasi dalam game nanti. Tetapi, pada bagian dimana dia harus membuat sebuah ruangan, Kurniawan menemui hambatan. Di script dijelaskan dia harus membuat sebuah ruangan yang sangat berantakan karena dijadikan arena pertarungan dalam game. Dia kurang mendapat gambaran yang baik, bagaimana kondisi berantakan yang paling sesuai. Akhirnya ia mendapat ide. Ia bangkit dan pergi menuju Ruang Teknisi. Di sana dilihatnya Ruang Teknisi penuh dengan barang-barang berbagai jenis bertumpuk-tumpuk dengan meriah, berserak dan tidak teratur, mulai dari lantai dan kolong meja, hingga ke atas lemari. Dalam sekejap Kurniawan telah mendapat gambaran yang diinginkannya.

Advertisements

2 thoughts on “Hari-hari Penuh Kegiatan (Bagian 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s