Rapat

Pada hari Sabtu yang telah dijanjikan, seperti biasa tidak ada satu pun karyawan yang kelihatan batang hidungnya di Ruang Rapat pada waktu yang telah ditetapkan. Barulah sekitar satu jam kemudian Taufik dan Saputra muncul. Pak Kamal sendiri baru datang lima menit kemudian, hampir bersamaan dengan Juliarti dan Aliwati. Anto tiba tak lama kemudian. Satu persatu karyawan Aransia tiba di ruang rapat.

Akhirnya semua karyawan yang diminta datang telah hadir, kecuali Heru. Saputra pun diutus untuk menjemput Heru, dan kemudian menemukan Heru sedang tidur di meja makan di dapur.

Setelah Heru tiba, rapat pun bisa dimulai. Pak Kamal memaparkan bahwa Aransia akan mendapatkan bantuan pinjaman alat-alat canggih untuk keperluan membuat animasi motion capture. Sebuah perusahaan dari China bersedia meminjamkan alat-alat motion capture yang mereka miliki kepada Aransia dan juga membantu mengajarkan hal-hal teknis mengenai pengerjaannya.

Alat-alat itu akan digunakan oleh Aransia untuk mengerjakan proyek game yang sedang mereka kerjakan sejak beberapa bulan ini. Yaitu sebuah game berjenis Team Based Action tentang segerombolan ayam-ayam yang terkena penyakit pilek yang datang menyerbu sebuah kota.

Tidak semua peserta rapat mencurahkan perhatiannya pada rapat. Beberapa orang larut dalam kesibukannya sendiri.

Kurniawan memandang ruangan rapat di sekelilingnya sebagai scene 3D dan mencoba menghitung jumlah poligon yang ada dalam scene itu.

Juliarti dan Aliwati bermain tebak-tebakan dengan berbisik-bisik.

Juliarti : “Coba tebak, di dalam rumah ada dua, di luar rumah ada satu.”

Aliwati : “Mobil.”

Juliarti : “Salah.”

Aliwati : “Jadi apaan?”

Juliarti : “Langit. Kan, kalo di luar rumah, ada langit. Di dalam rumah, yang ada langit-langit.”

Aliwati : “Gantian gue. Orang-orang yang ditinggal pacarnya, pada pergi kemana?”

Juliarti : “Ke pantai.”

Aliawty : “Salah.”.

Juliarti : “Ke dukun.”

Aliwati : “Salah. Yang bener, mereka pada ke…cewa.”

Juliarti : “Minyak apa yang bikin orang-orang pada takut?”

Aliwati : “Minyak panas.”

Juliarti : “Salah.”

Aliwati : “Ga tau deh.”

Juliarti : “Jawabnya, minyaksikan film horror.”

Aliwati : “Sekarang lo tebak. Tau bel, kan? Yang di depan pintu. Bel apa bikin capek sampe keringetan?”

Juliarti : “Bel rusak.”

Aliwati : “Salah.”

Juliarti : “Jadi bel apaan?”

Aliwati : “Belari-lari dikejar anjing kampung.”

Juliarti : “Kutu! Kutu apa yang cuma ada di Sumatera Barat?”

Aliwati : “Kutu Padang.”

Juliarti : “Ngarang lo! Mana ada kutu Padang.”

Aliwati : “Jadi apa dong?”

Juliarti : “Kutukan Si Malin Kundang.”

Aliwati : “Sekarang lo tebak ini. Sepatu apa yang suka dikelilingi orang-orang yang lari pagi?”

Juliarti : “Sepatu apaan? Iseng banget tuh orang-orang?”

Aliwati : “Tebak dong.”

Juliarti : “Gue nyerah deh. Apa jawabannya?”

Aliwati : “Sepatu-tnya sih Tugu Monas. Soalnya di sana banyak orang lari pagi.”

Juliarti : “Sekarang gue. Apa yang berdiri tegak di pinggir sungai?”

Aliwati : “Orang mancing.”

Juliarti : “Salah.”

Aliwati : “Pagar.”

Juliarti : “Salah. Yang bener, huruf i.”

Aliwati : “Berkumis, berbulu, naik turun. Apa coba?”

Juliarti : “Teka-tekinya jorok, nggak?”

Aliwati : “Nggak. Nggak jorok.”

Juliarti : “Kemoceng diiket tali.”

Aliwati : “Salah.”

Juliarti : “Jadi apaan?”

Aliwati : “Kucing ngendon dalam lift.”

Begitulah seterusnya tak henti-hentinya Juliarti dan Aliwati bergantian saling menebak.

Dedi juga sibuk dengan kertas di hadapannya. Ia sedang bereksperimen dengan origami, seni melipat kertas. Sampai sekian lama ia bersusah payah melipat-lipat kertasnya karena ia berniat akan membuat hewan yang sangat mirip dengan aslinya. Tetapi karena tidak berhasil juga membuat hewan seperti anjing atau angsa, akhirnya ia menggumpal-gumpal kertas itu dengan kedua tangannya hingga menjadi bola lalu menyimpulkan itu adalah sejenis hewan yang tinggal di dasar laut. Ia tersenyum puas melihat hasil karyanya itu.

Lewat siang hari, rapat selesai dan menghasilkan beberapa rumusan berisi gagasan para karyawan tentang hal penting yang akan diperlukan dalam pengerjaan game nanti. Rumusan ini akan disempurnakan lagi oleh Pak Kamal. Sementara para karyawan masih akan tetap melanjutkan pengembangan sebuah game yang telah mereka kerjakan selama beberapa bulan ini, dan saat ini hampir rampung pembuatannya. Sebuah game dengan judul sementara “Serbuan Ayam Pilek”, tentang sebuah kota yang diserbu segerombolan ayam-ayam yang tertular penyakit pilek.

Advertisements

2 thoughts on “Rapat

  1. Ngingetin gw ma rapat di kantor, ada yang ngantuk2, ada yg main sudoku, ada yang sibuk ngaduk kopi, bahkan tidur dengan mata terbuka….

    –> wah, di sini juga sama… emang dimana-mana sama aja, yah? 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s